Ketika Desa Wisata Puspo Jadi Penyangga Bromo

Desa Wisata Puspo Kawasan Penyangga Gunung Bromo Pasuruan-Desa Puspo, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan kini dikembangkan menjadi Desa Penyangga Kawasan Wisata Gunung Bromo.

Camat Puspo Teguh Winarto mengungkapkan, Desa Puspo pada awalnya adalah salah satu desa penerima Program Penanggulangan Kemiskinan versi Perkotaan (P2KP) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

“Atas keberhasilan melaksanakan program tersebut, Desa Puspo mendapat penghargaan bantuan dana Rp 1 miliar,” ucap Camat Puspo.

Dijelaskan, bantuan dana tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi Desa Puspo sebagai desa penyangga kawasan wisata Gunung Bromo (2329 m dpl).

Pilihan tersebut, lanjut Teguh, karena Desa Puspu merupakan salah satu pintu gerbang kawasan wisata Gunung Bromo dari arah Pasuruan.

Di Desa Puspo terdapat terminal transit terakhir menuju kawasan wisata Gunung Bromo. Di terminal transit tersebut wisatawan yang menggunakan transportasi bus ukuran besar akan melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan kendaraan lebih kecil menuju Gunung Bromo.

Camat Puspo mengatakan, terminal transit tersebut akan dijadikan sebagai sarana promosi produk-produk unggulan, dan tempat atraksi seni dan budaya tradisional Puspo.

Kepala Desa Puspo, Bagus Tramggono menyebutkan, area transit dan pasar desa Puspo tersebut nantinya akan dibangun berbagai fasilitas, di antaranya ruang tunggu, tempat penginapan, kios, toko, toilet, kafe, gedung serbaguna dan arena teater untuk mendukung lahan parkir yang telah ada.

Menurut Bagus Tranggono, fasilitas tersebut akan dibangun secara bertahap dengan menggunakan dana “reward” P2KP senilai Rp 1 miliar dari pemerintah.

“Fasilitas tersebut nantinya akan dijadikan sebagai tempat promosi desa wisata berikut penjualan produk-produk unggulan, dan menyaksikan berbagai atraksi seni dan budaya tradsional Puspo,” papar Bagus Tranggono.

Disebutkan, produk unggulan Desa Puspo meliputi susu, buah durian, alpukat, pete, dan aneka sayur-sayuran. Sedangkan atraksi seni dan budaya tradisional Puso yang bisa disaksikan meliputi jaran kepang, tayub, macapat, selamatan desa, dan geledekan kayu.

Ketua Tim Pemasaran Desa Puspo, Rifai menambahkan, pembangunan desa wisata Puspo dilakukan secara berkelanjutan yang ditopang dengan potensi peternakan sapi perah, pertanian, perkebunan, kehutanan, dan peternakan lebah.

Disebutkan, populasi tenak sapi perah di Puspo yang dikelola KUD Semabada mencapai sekitar 9.000 ekor dengan produksi susu sekitar 8.000 liter per hari.

Sementara buah durian yang menjadi produk unggulan Puspo, bisa dinikmati saat musim panen yang jatuh antara bulan Januari hingga April. Begitu juga buah-buahan yang lainnya, seperti alpukat, dan sayur-sayuran.

Sementara atraksi kesenian, seperti jaran kepang, macapat, serta atraksi naik gelegkan, yakni sepeda kayu yang hanya bisa meluncur ke bawah, atau berwisata agro bisa dinikmati setiap saat. Sedangkan selamatan desa bisa disaksikan pada saat-saat tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s