Mandi Balimau Kerinci Agar Tidak Dikucilkan

Tradisi mandi balimau atau tradisi mandi air jeruk di berbagai tempat di Pulau Sumatra masih tetap berlangsung hingga kini. Sebut saja misalnya Aceh, Sumbar, Pekanbaru dan Jambi.

Untuk kawasan Aceh, Sumbar dan Pekanbaru tradisi mandi balimau dilakukan saat menjelang bulan suci ramadhan. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Tetapi lainhalnya untuk daerah Kerinci, Jambi. Tradisi mandi balimau dilakukan tiga tahun sekali. Bagi Anda yang ingin mengetahui dari dekat tradisi mandi balimau di Kerinci, bisa mendatangi daerah ini setiap bulan Maret per tiga tahun.

Tradisi mandi balimau yang terakhir kali dilakukan pada Minggu 23 Maret 2011 lalu. Warga Desa Dusun Baru Semurup Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci, Jambi, menggelar tradisi mandi balimau yang diselenggarakan Balai Adat.

Saat tradisi mandi balimau seluruh warga masyarakat berduyun-duyun mengikuti tradisi turun temurun sejak nenk moyang masyarakat setempat yang digelar di Umah Gedang yang merupakan rumah adat Desa Sumurup, Dusun Baru.

Antusiasme masyarakat mengikuti tradisi mandi balimau, karena jika tidak, masyarakat setempat akan dikucilkan dari komunitas masyarakat.

Prosesi tradisi mandi balimau biasanya dipimpin oleh Depati Hatur Negeri yang merupakan pemimpin tertinggi dalam tatanan adat mereka. Semua warga mengantri saat disiramkan air bersih yang telah diberi limau atau jeruk beraneka jenis.

Sedikitnya ada tujuh jenis jeruk yang belah-belah dan dicampurkan ke air bersih tersebut, beberapa di antaranya jeruk manis, jeruk purut, jeruk kunci (jeruk kecil), jeruk Bali, dan jeruk salam.

Sembari memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT setiap warga kemudian dimandikan oleh Depati satu persatu di halaman Umah Gedang, yakni rumah Adat yang merupakan Istana para depati, sekaligus merupakan Museum Sko (harta pusaka) desa-desa dan suku-suku di Kerinci.

Tradisi Perempuan Singkil

Bagi kebanyakan kaum perempuan asal Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, mandi balimau untuk membersihkan diri memasuki bulan ramadhan merupakan bagian tidak terpisahkan dari rangkaian hari saat berniat untuk menjalankan ibadah puasa.

Banyak wanita Singkil yang mengaku kurang afdhol jika tidak menjalani mandi balimau. Tradisi itu hingga kini tetap hidup dan berkembang dalam budaya kaum hawa di wilayah pesisir barat selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), termasuk saat menyambut puasa Ramadhan 1429 H.

Mandi balimau dengan meramu puluhan jenis bunga, termasuk daun serai pulau pinang serta dicampur daun pandan, disiapkan secara khusus. Ramuan itu kemudian ditumbuk, disaring untuk mendapatkan air bersih antara satu sampai dua liter yang akan digunakan untuk keramas.

Mandi balimau dilakukan beramai-ramai petang hari dengan berdiri secara berderet di sungai Elsoraya, ibukota Aceh Singkil. Kebanyakan perempuan Singkil mengaku, walau pun mereka tidak sedang berada di kampung halamannya, mereka pasti menyempatkan diri mandi balimau menjelang puasa.

Walaupun disibuki dengan pekerjaan lain sebagai ibu rumahtangga, namun bagi kebanyakan perempuan asal pesisir barat selatan Aceh itu, tradisi itu harus tetap dilaksanakan.

Bagi mereka yang di perantauan, melakukan mandi kembang tersebut dilakukan sekembalinya berziarah ke makam orangtuannya, namun jadwalnya tetap pada petang hari, menjelang matahari terbenam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s